IQPlus (23/9) - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan sejumlah tekanan yang dihadapi industri nasional sekaligus strategi pemerintah untuk menjaga daya saing sektor manufaktur dalam kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.
Menperin Agus dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu menyampaikan tekanan terhadap industri tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada Agustus 2026 berada di level 49,8 atau sedikit di bawah ambang ekspansi 50.
Namun, ia menekankan kondisi tersebut perlu dilihat secara berimbang dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang disusun Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Pada Agustus, IKI masih berada di level ekspansif 52,3 dan selama delapan bulan 2026 tidak pernah turun di bawah 50.
Menurut Agus, perbedaan kedua indikator tersebut menunjukkan pelaku industri masih memiliki kepercayaan terhadap prospek usaha, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan nyata di lapangan.
PMI dinilai lebih cepat menangkap gejolak karena mengukur kondisi pembelian dan pesanan perusahaan pada bulan berjalan, sedangkan IKI memiliki cakupan perusahaan yang lebih luas dan bobot besar pada pesanan baru.
Menperin Agus memaparkan setidaknya empat tekanan utama yang saat ini membebani industri nasional, yakni banjir impor, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan daya beli masyarakat.
Banjir impor terjadi di tengah kelebihan kapasitas produksi global, terutama pada sektor baja, tekstil, keramik, plastik, dan elektronik.
Menurut Menperin, kondisi tersebut semakin menekan industri domestik karena sejumlah produk impor masuk dengan harga sangat rendah. Persaingan harga menjadi semakin berat bagi produsen dalam negeri yang harus menanggung biaya produksi dan operasional.
Tekanan berikutnya berasal dari geopolitik, khususnya konflik Amerika Serikat-Iran dan gangguan di Selat Hormuz yang berdampak terhadap jalur energi dunia.
Kenaikan harga minyak juga menjadi tantangan karena berdampak langsung terhadap biaya bahan bakar, logistik, dan bahan baku petrokimia seperti plastik, karet sintetis, serta serat poliester.
Menperin Agus menilai keempat tekanan tersebut saling memperkuat. Biaya produksi meningkat akibat energi, harga produk tertekan oleh impor murah, sementara permintaan menghadapi tantangan dari daya beli.
"Kami sudah melakukan diagnosis, jadi tantangan industri kita bukan kemampuan memproduksi. Tantangan kita adalah memastikan bahwa barang-barang yang kita produksi dibeli di Indonesia," ucap Menperin. (end)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info