IQPlus, (5/8) - Pasar saham Asia melonjak pada hari Rabu karena kinerja laba yang kuat dan bangkitnya kembali permintaan sektor teknologi mendorong Wall Street ke rekor tertinggi, sementara harapan akan kemajuan dalam pembukaan Selat Hormuz memberikan tekanan pada harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Indeks Nikkei Jepang (.N225) naik 3,0% dan indeks Korea Selatan (.KS11) naik 3,4%, melanjutkan tren fluktuasi tajam yang terjadi sebelumnya. Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1,5%.
Namun, tidak semua perusahaan teknologi mendapatkan keuntungan yang sama.
Investor tampaknya melakukan aksi ambil untung pada saham AMD (AMD.O) meskipun hasil kinerjanya melampaui perkiraan. Saham produsen cip tersebut anjlok 9% setelah penutupan perdagangan.
Perusahaan AI dan satelit SpaceX (SPCX.O) turun 7,5%menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi selama jam perdagangan reguler akibat kekhawatiran bahwa belanja modal (capex) menguras seluruh arus kas perusahaan.
Hal ini telah menjadi kekhawatiran yang terus berulang bagi semua saham terkait AI mengingat besarnya biaya daya komputasi, ditambah dengan biaya pinjaman yang terus meningkat di sektor tersebut.
"SpaceX terus menunjukkan kinerja operasional yang kuat, namun program investasinya yang ambisius berarti tambahan modal hampir pasti akan dibutuhkan dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Chris Weston, kepala riset di perusahaan pialang Pepperstone.
"Bagaimana manajemen mendanai pertumbuhan tersebut, dan dengan biaya berapa, kemungkinan besar akan tetap menjadi topik utama bagi para investor dalam beberapa kuartal mendatang."
Kontrak berjangka Nasdaq turun tipis 0,1% merespons hasil kinerja tersebut, sementara kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2% setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada hari Selasa. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 menguat 0,3%, sedangkan kontrak berjangka DAX naik 0,5% dan kontrak berjangka FTSE naik 0,1%.
Sentimen pasar didukung oleh penurunan harga minyak yang terus berlanjut setelah Qatar menyatakan bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang AS-Iran, meskipun rincian lebih lanjut belum tersedia.
Minyak mentah Brent turun 0,4% menjadi $79,02 per barel jauh dari level tertinggi bulan Juli di angka $102 sementara minyak mentah AS turun 0,5% menjadi $75,35.
Penurunan harga minyak ini sedikit meredakan kekhawatiran akan inflasi dan mendorong pasar obligasi secara global; imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun kini berada di angka 4,6187%, turun dari level tertinggi pekan lalu sebesar 4,747%.
Pasar juga memangkas secara tajam perkiraan probabilitas kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan September, dari 67% menjadi 57%.
Namun, Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, dalam pidatonya hari Selasa menyerukan kebijakan yang lebih ketat guna membantu mengembalikan inflasi ke target bank sentral sebesar 2%. (end/Reuters)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info