IQPlus, (12/8) - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengoptimalkan peran Bendungan Tapin di Kecamatan Piani Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau.
"Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan yang optimal, kami memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan," kata Menteri PU Dody Hanggodo di Jakarta, Rabu.
Kementerian PU mengoptimalkan peran Bendungan Tapin di Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dalam mengatur pemanfaatan air agar kebutuhan masyarakat, sektor pertanian dan lingkungan tetap terpenuhi secara optimal saat musim kemarau.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Menteri PU Dody Hanggodo untuk mendukung target swasembada pangan dalam menghadapi ancaman kekeringan dampak fenomena El Nino dengan menjaga ketersediaan air irigasi.
Secara teknis, Bendungan Tapin yang dikelola oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III ini berperan sebagai infrastruktur penyangga utama dalam menanggulangi deviasi iklim ekstrim akibat fenomena El Nino di wilayah Kalimantan Selatan. Saat ini volume tampungan tercatat sebesar 35.957.287 (m3)/ 68,12 persen dari kapasitas Tampungan Muka Air Normal.
Dalam menghadapi puncak musim kemarau dan fenomena El Nino, Bendungan Tapin memiliki lima peran yang strategis. Pertama, optimasi pola operasi waduk (maximum storage retention).
Pengelola waduk pada Bendungan Tapin menerapkan pola operasi dengan mempertahankan ketersediaan air sesuai Rencana Tahunan Operasi Waduk atau menjaga elevasi muka pada batas operasi normal.
Kedua, menjaga kontinuitas air baku dan aliran sungai. Dengan suplai konstan pada Potensi Air Baku sebesar 500 L/s, bendungan menjaga pasokan air baku dan mempertahankan debit pemeliharaan sungai.
Ketiga, pemantauan hidrologi presisi berbasis data seketika. Operasi pengeluaran air (outflow release) disesuaikan secara dinamis dengan memperhitungkan inflow dari hulu serta pemodelan cuaca dari BMKG dan BRIN.
Keempat, penyesuaian pemanfaatan di hilir dengan memprioritaskan terlebih dahulu sesuai urutan prioritas pemenuhan/pemanfaatan air seperti mendahulukan untuk kebutuhan air baku baru kemudian untuk irigasi, kebutuhan industri, energi listrik dan pariwisata.
Kelima, mitigasi dampak sekunder (penurunan risiko kebakaran hutan dan lahan/karhutla). Rilis air teratur ke alur sungai dan saluran irigasi membantu memperkecil penurunan tinggi muka air tanah (water table) di wilayah sekitarnya. (end/ant)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info