IQPlus, (10/8) - Saham perusahaan Australia, Sunrise Energy Metals, melonjak hingga 29% pada hari Senin setelah perusahaan tambang logam tanah jarang tersebut mendapatkan investasi berupa pembiayaan utang jangka panjang senilai US$400 juta dari Amerika Serikat. Dana ini ditujukan untuk mendukung pengembangan tambang primer skandium pertama di dunia.
Dukungan pemerintahan Trump terhadap Sunrise muncul di tengah upaya negara-negara ekonomi utama untuk memperkuat pasokan logam tanah jarang, sebagai bagian dari langkah untuk mematahkan dominasi mineral yang telah lama dipegang oleh Tiongkok.
Departemen Pertahanan AS pada hari Jumat menyatakan bahwa Office of Strategic Capital (OSC) miliknya telah mengumumkan komitmen pinjaman bersyarat kepada Sunrise. Pinjaman ini bertujuan mendukung rencana perusahaan dalam mengembangkan rantai nilai skandium secara menyeluruh, yang dimulai dengan operasi penambangan primer di Proyek Syerston, New South Wales.
Saham Sunrise melonjak merespons kabar tersebut, sebelum kemudian kenaikannya sedikit berkurang. Pada hari Senin, saham perusahaan tercatat diperdagangkan dengan kenaikan sebesar 16%.
Skandium dianggap sebagai unsur logam tanah jarang yang sangat strategis karena sifat-sifatnya yang unik. Unsur ini merupakan salah satu bahan paling efektif untuk memperkuat aluminium, sekaligus memiliki karakteristik fleksibel serta tahan terhadap panas dan korosi.
Logam berwarna putih keperakan ini memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi, terutama di sektor pertahanan dan kedirgantaraan, serta dalam penyediaan daya yang andal bagi pusat data kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur lain yang memiliki keterbatasan pasokan daya.
Chairman Sunrise sekaligus miliarder sektor pertambangan, Robert Friedland, menyebut pendanaan tersebut sebagai "momen penting" bagi perusahaan maupun industri pertambangan Australia.
"Dunia telah memasuki era di mana akses terhadap mineral kritis akan menentukan kekuatan industri, kepemimpinan teknologi, dan keamanan nasional," ujar Friedland pada hari Senin dalam pernyataan yang disampaikan kepada Bursa Efek Australia (Australian Securities Exchange).
"Skandium adalah salah satu contoh paling nyata; mineral ini mendukung berbagai teknologi, industri, dan kemampuan pertahanan yang akan membentuk masa depan dalam beberapa dekade mendatang," tambahnya.
Tiongkok merupakan pemimpin yang tak tertandingi dalam rantai pasok mineral kritis. Negara tersebut memproduksi hampir 70% pasokan logam tanah jarang (rare earth) dunia dari tambang domestik dan mengolah hampir 90% pasokan global dengan memurnikan material yang diimpor dari luar negeri.
Para pejabat negara Barat telah berulang kali menyoroti dominasi rantai pasok Beijing sebagai tantangan strategis, mengingat permintaan akan mineral kritis diperkirakan akan meningkat secara eksponensial, terutama seiring dengan percepatan transisi energi bersih. (end/CNBC)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info