IQPlus, (5/11) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membidik pengembangan green data center atau pusat data ramah lingkungan pertama di dunia yang memanfaatkan pasokan listrik dari panas bumi.
"Nanti ini menjadi green data center geothermal pertama, mungkin, di dunia, ya. Yang tidak terkoneksi dengan sumber lain," ujar Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam Media Briefing Laporan Keuangan Kuartal III-2026 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. yang digelar di Jakarta, Rabu.
Yani menyampaikan pasokan listrik untuk pusat data ramah lingkungan tersebut nantinya hanya akan menggunakan panas bumi dan tidak terhubung dengan pembangkit listrik lainnya.
Langkah tersebut bertujuan untuk membuktikan bahwa PLTP merupakan pemasok listrik yang andal untuk operasional data center tanpa membutuhkan pasokan listrik dari pembangkit lainnya.
"Kami tekankan keunikan dari pilot project green data center ini, jadi kami murni dari geothermal, tidak tergantung dengan energi-energi lain," kata Yani.
Adapun pilot project atau proyek percontohan dari pengembangan green data center geothermal tersebut saat ini sedang berlangsung di kawasan PLTP Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Yani mengalokasikan 5 megawatt (MW) dari PLTP Kamojang untuk proyek percontohan data center tersebut.
"Secara studi teknologinya sudah kami jalankan, sudah fix. Nah, sekarang masuk ke tahap bagaimana commerciality, bagaimana regulasi, nah ini sedang kaji menuju ke sana," ujar Yani.
Selain untuk membuktikan ketangguhan panas bumi dalam memenuhi kebutuhan listrik data center, Yani berharap proyek percontohan itu dapat menjawab kekhawatiran masyarakat terkait pengelolaan air dan dampak lingkungan lainnya dari pengembangan data center.
"Nah ini kami coba dengan pilot project untuk memperlihatkan itu. Proof of concept dari teknologi, aspek lingkungan, dan commerciality-nya," ujar Yani.
Diwartakan sebelumnya, proyek percontohan green data center di Kamojang bertujuan untuk memvalidasi model bisnis, menjajaki kebutuhan calon pengguna, serta menyiapkan pasar.
Guna mendorong optimalisasi pengembangan data center berbasis EBT, Yani mengatakan terdapat beberapa langkah kunci yang perlu dukungan penuh.
Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan predictable; kemudian, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing.
"Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD. Keempat, diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional," ujar Ahmad Yani. (end/ant)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info