← Kembali
Market News - EKOM
KEMENPERIN : OPTIMISME INDUSTRI ENAM BULAN KE DEPAN TETAP TERJAGA
🕐 30/10/26 08:24 | IQPLUS
30230236

IQPlus, (30/10) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan optimisme industri manufaktur nasional terhadap prospek usaha dalam enam bulan ke depan tetap terjaga, seiring dengan penguatan kinerja industri yang tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 menjadi 53,77.

"Apabila kita perhatikan, IKI dari bulan ke bulan menunjukkan sektor industri terus ekspansi dan kuat. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian IKI, dapat kami sampaikan bahwa sebagian besar tumbuh sangat baik," kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko SA Cahyanto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Nilai IKI tersebut meningkat 1,84 poin dibandingkan September 2026 yang sebesar 51,93. Capaian itu juga lebih tinggi 0,27 poin dibandingkan Oktober 2025 sebesar 53,50, sekaligus menunjukkan aktivitas industri pengolahan nasional masih berada dalam fase ekspansi.

Eko menjelaskan, tingkat optimisme pelaku industri untuk enam bulan ke depan tetap terjaga, dengan 67,4 persen responden menyatakan optimistis. Sementara itu, tingkat pesimisme menurun dari 5,8 persen menjadi 5,5 persen.

Berdasarkan orientasi pasar, IKI industri berorientasi ekspor tercatat sebesar 53,93, sedangkan industri berorientasi pasar domestik mencapai 53,55.

Penguatan IKI Oktober 2026 terutama ditopang oleh variabel pesanan dan produksi. Indeks variabel pesanan mencapai 56,08 atau meningkat 2,68 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun indeks produksi tercatat sebesar 55,38 atau naik 1,60 poin.

Sementara itu, indeks persediaan berada pada level 45,60 atau meningkat 0,15 poin, tetapi masih dalam fase kontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Dari sisi kegiatan usaha, sebanyak 80,4 persen responden menyatakan aktivitas usahanya membaik dan stabil pada Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 77,9 persen.

Sebaliknya, responden yang menyatakan kegiatan usahanya melambat tercatat sebesar 19,5 persen, turun dari 22,2 persen pada September 2026.

Menurut Eko, perbaikan tersebut turut dipengaruhi oleh situasi menjelang sejumlah perayaan hari besar keagamaan dalam beberapa waktu ke depan yang membuka peluang peningkatan aktivitas produksi industri.

Pada subsektor industri makanan, IKI Oktober 2026 mencatatkan nilai tertinggi sepanjang tahun ini. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar (Mintemgar) Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan peningkatan tersebut terutama didukung kenaikan pesanan, termasuk dari pasar ekspor.

Namun, kendala logistik masih memengaruhi kelancaran pengiriman produk dan turut menekan variabel persediaan.

Selain industri makanan, perkembangan positif juga terlihat pada industri kertas dan barang dari kertas yang kembali memasuki fase ekspansi setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Peningkatan pesanan pada subsektor tersebut turut berkaitan dengan kebutuhan kertas kemasan untuk persiapan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Di sisi lain, terdapat empat subsektor yang mengalami kontraksi pada Oktober 2026, yakni industri kayu, barang dari kayu dan gabus, industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, industri karet, barang dari karet dan plastik, serta industri furnitur.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pelemahan pesanan ekspor, gangguan distribusi bahan baku, kenaikan biaya produksi, hingga ketidakpastian permintaan global.

Untuk industri hasil tembakau (IHT), IKI Oktober 2026 masih berada dalam fase ekspansi meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut ditopang oleh komponen pesanan baru dan produksi yang tetap ekspansif, sementara persediaan berada pada fase kontraksi.

Ia mengatakan pelaku industri hasil tembakau biasanya memiliki strategi khusus untuk mengantisipasi kebijakan baru pemerintah terkait kenaikan cukai.

Dari sisi ekspor, nilai ekspor produk olahan tembakau pada Januari-Agustus 2026 mencapai Rp1,48 triliun, meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Meski demikian, industri masih menghadapi tantangan berupa peredaran rokok ilegal yang pada 2025 tercatat mencapai 13,9 persen dari total rokok beredar.

Selain peredaran rokok ilegal, sejumlah regulasi terkait pembatasan kandungan nikotin dan tar, larangan penggunaan bahan tambahan, serta ketentuan gambar dan peringatan kesehatan turut menimbulkan ketidakpastian usaha yang memengaruhi tingkat optimisme sebagian pelaku industri. (end)
📰 BERITA TERKAIT
🏢 LEMBAGA TERKAIT

Disclaimer :

All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).

ADDRESS :

Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240

Info Produk

Marketing

Technical Support

SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3

Phone : 021-4513821

Email : marketing@iqplus.info