IQPlus, (2/11) - Sebagai upaya memperkuat lini bisnis di pemerahan sapi, Perusahaan agribisnis terintegrasi yakni PT Estika Tata Tiara Tbk (IDX: BEEF) resmi melakukan akuisisi aset berupa lahan seluas 300.500 m2 (30,05 ha) yang didalamnya sudah memiliki fasilitas peternakan sapi perah dan infrastruktur untuk membuat susu kemasan di Sukabumi, Jawa Barat. Untuk mengoptimalkan potensi aset tersebut, Perseroan kedepannya berencana mengembangakan lahan baru ini menjadi bisnis pemerahan sapi berbasis agrowisata.
Direktur Utama Perseroan, Ari Wijayanto, menjelaskan pembelian aset baru ini merupakan tindak lanjut dari langkah diversifikasi portofolio bisnis Perseroan yang telah resmi menjalankan lini bisnis baru di bidang pemerahan sapi dengan membeli 250 ekor sapi perah impor untuk dipelihara di peternakan Desa Tumiyang, Banyumas, Jawa Tengah pada awal tahun 2026 ini. Dengan demikian, Perseroan kini memiliki ekosistem bisnis pangan yang semakin holistik dan terintegrasi, mulai dari penggemukan sapi potong dan kerbau, Rumah Potong Hewan (RPH), importasi daging, produk olahan daging (sosis, bakso, dll), penyewaaan gudang dingin (Cold Storage), hingga produksi susu sapi.
"Setelah berhasil memproduksi susu segar dengan hasil pemerahan yang memuaskan untuk laktasi pertama di peternakan Desa Tumiyang, kami menargetkan pembelian aset baru ini dapat meningkatkan keberlanjutan bisnis pemerahan sapi dengan meningkatkan nilai tambah bagi konsumen melalui produk susu kemasan hingga pengalaman wisata edukasi peternakan. Hal ini dilakukan Perseroan seiring dengan prospek positif industri pemerahan susu di Indonesia," papar Ari.
Sebagaimana diketahui, susu sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting untuk mendukung pemenuhan gizi dan nutrisi bagi tubuh. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (Food and Agriculture Organisation/FAO), Permintaan akan susu dan produk susu di negara-negara berkembang terus meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perubahan pola makan. Tren ini sangat terlihat di Asia Timur dan Tenggara, terutama di negara-negara dengan populasi padat seperti Tiongkok, Indonesia, dan Vietnam. Secara global, konsumsi susu per kapita di dunia diperkirakan akan tumbuh 1,9% per tahun dari tahun 2026 sampai 2035.
Spesifik di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, kebutuhan susu nasional pada 2025 mencapai sekitar 4,68 juta ton dengan konsumsi per kapita sekitar 17,7 liter per tahun. Sementara itu, impor susu tercatat sekitar 3,86 juta ton dan produksi dalam negeri sekitar 820,9 ribu ton. Artinya, jumlah produk susu dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Peluang inilah yang ditangkap oleh Perseroan.
"Kami menilai industri susu dalam negeri masih memiliki ruang tumbuh yang sangat besar. Apalagi, kebutuhan susu nasional juga diproyeksikan terus meningkat sejalan dengan hadirnya program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga bonus demografi. Dalam hal ini, kami berupaya memperkuat posisi kami sebagai Perusahaan agribisnis terintegrasi yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi protein hewani dalam negeri, dari mulai daging dan produk turunannya hingga susu sapi," jelas Ari. (end)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info