IQPlus, (28/10) - Bank sentral Selandia Baru secara tak terduga mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75 persen pada hari Rabu (28 Oktober) melalui pemungutan suara yang ketat. Meski demikian, komite menyatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat kemungkinan akan diperlukan, bergantung pada prospek ekonomi ke depan.
Dalam jajak pendapat Reuters, 22 dari 27 ekonom memperkirakan bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Menyusul keputusan yang mengejutkan tersebut, nilai tukar dolar Selandia Baru anjlok dari US$0,5676 menjadi US$0,5590, sementara suku bunga swap tenor dua tahun turun dari level tertinggi 4,1109 persen ke level terendah 3,9497 persen.
Bank Australia, Westpac, menyatakan bahwa ini merupakan kali pertama di luar masa pandemi Covid bank sentral mempertahankan suku bunga, padahal pasar telah mengantisipasi peluang kenaikan lebih dari 70 persen.
Sebelumnya, dalam dua pertemuan terakhir, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan karena kekhawatiran bahwa tingkat inflasi berada di luar kisaran target bank sentral, yakni 1 hingga 3 persen.
Meski demikian, suku bunga tersebut masih jauh di bawah puncaknya yang mencapai 5,5 persen pada Agustus 2024, setelah bank sentral memulai siklus pelonggaran kebijakan yang cepat di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan meredanya inflasi.
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga diambil dengan selisih tipis; empat anggota komite termasuk Gubernur Anna Breman memilih untuk menjaga suku bunga acuan tetap, sementara tiga anggota lainnya menginginkan kenaikan suku bunga.
"Seluruh anggota komite memiliki pandangan yang sama mengenai prospek inflasi secara keseluruhan. Namun, terdapat perbedaan pendapat di antara para anggota mengenai seberapa besar bobot yang diberikan pada berbagai risiko, serta kapan waktu yang tepat untuk menerapkan respons kebijakan moneter," ungkap RBNZ dalam pernyataan tinjauan kebijakan moneter yang menyertainya.
Keputusan bank sentral ini muncul hanya 10 hari menjelang pemilihan umum yang berlangsung sengit, di mana prospek ekonomi dan inflasi tetap menjadi isu utama bagi para pemilih. (end/Reuters)
Disclaimer :
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).
ADDRESS :
Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240
Info Produk
MarketingTechnical Support
SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3Phone : 021-4513821
Email : marketing@iqplus.info